Kamis, 29 Oktober 2015

Mr. Imperfect (Bag.1)

Mempunyai teman pria memang bukan pertama kalinya ku alami. Maksud ku benar-benar teman pria, bukan “teman pria” (baca: pacar). Tapi mempunyai teman pria yang tau kalau aku lesbian hanya dia seorang.

Perkenalkan teman baru ku, namanya “Kay”. Dia pria yang paling gokil, kekanak-kanakan, gila, dan romantis yang pernah aku kenal. Dan satu lagi, dia benar-benar sangat aneh. Sungguh sangat aneh. Bayangkan ketika kamu sedang asik-asiknya cerita di telp tiba-tiba saja dia menghentikan pembicaraan kemudian berkata,

“Bentar deh Nde.”
“Kenapa Kay?”
“OK, kamu boleh lanjut cerita.”
“loh, emang tadi kenapa?”
“Aku tadi abis kentut.”
“What!!! Eww....kamu jorok ah.”
“Kok jorok, itu namanya kondisi alamiah Nde.”

Bisa anda bayangkan bagaimana perasaan saya begitu dia melakukan hal itu sejenak. Seumur-umur aku punya teman cowok tak satupun yang pernah melakukan itu pada ku. Maksud ku, bukankah kita berbicara di telp. Dia seharusnya kalau memang mau kentut ya kentut aja, kenapa harus menyuruh ku diam sejenak dan memberitahukan kalau dia lagi kentut, itu sungguh-sungguh eww...eww... (saking ga bisa mengekspresikan bagaimana rasanya).

Yang itu tadi baru satu hal aneh yang ada pada dirinya, masih banyak kejadian yang bisa membuat ku tersenyum-senyum sendiri kalau mengingat kekonyolan yang dia lakukan. Seperti minta ditemani via telp ketika pipis saat mati lampu. Katanya sih dia takut ketika nanti dia pipis sendiri kegelapan akan memakan jiwanya (Nah kalau yang ini adalah bagian kekanak-kanakan dari dirinya).

Berbicara dengannya dalam kondisi bad mood pun masih bisa membuat ku tertawa tak karuan. Aku sampai harus keluar kamar karena takut suara ku mengganggu teman sekamar.

Hal lainnya yang paling aku sukai adalah ketika kita mulai membicarakan tentang perempuan. Seperti bagaimana seharusnya memperlakukannya atau sepertinya apa kriteria yang kami sukai dari versi dia dan aku.

It,s so much fun talking to him. Rasanya seperti berbicara dengan abang sendiri, tanpa rasa malu atau jaim. Ketika bercerita kata-kata yang keluar hanya mengalir begitu saja.

Ok...nanti aku lanjut lagi yah ceritanya.

To be continued...