Aku mempunyai seorang sahabat yang ga kalah gilanya dari
aku. Itu yang sering membuat kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan
ketika bertemu. Ada-ada aja yang diomongin. Teman-teman yang lain sering
terbengong-bengong kalau udah liat kami ngobrol. Seperti orang bertengkar kata
mereka. Bagaimana ga, sama-sama keturunan batak kalau udah ketemu pastinya bisa ngalahin suara mobil fuso sekalipun (lebay he..he..).
Belum lagi kalau kami udah mulai memakai bahasa planet (baca:
batak) , asli semua mata akan tertuju pada kami. Yang lain juga sering nyindir
kalau kami udah ketemu, mereka pasti berkomentar “Dua alien udah ketemu,
siap-siap tutup telinga dech”.
Selain konyol, cerewet, dan lucu, dia juga cerdas dalam
berkomunikasi. Maksudnya, dia pintar mengolah kata-kata menjadi sebuah kalimat
yang keren banget. Intonasi suara dan pengucapannya sering membuat ku terkagum-kagum
kalau sudah mendengar dia berargumen.
Pernah suatu kali kami di tempatkan dalam satu departemen di
salah satu organisasi kampus. Di situlah awal kekaguman ku padanya. Bagaimana dia
bisa dengan mudah menyampaikan pendapatnya mengenai program kerja yang akan
kita laksanakan. Atau bagaimana dia dengan mudah mematahkan pendapat kami
ketika dia tidak setuju dengan pendapat tersebut. Kata-katanya yang lugas,
mantap, dan mudah dimengerti mampu menyihir kami untuk menerima pendapatnya.
Keren!!! Satu kata dari ku untuk mencerminkan kemampuan dia
dalam berbahasa. Jelas, padat, dan tidak bertele-tele begitulah ciri-cirinya
dalam menyampaikan kalimat. Bahkan yang paling senior pun sering meminta
pendapatnya.
Seiring berjalannya waktu, semakin aku mengenal
kepribadiannya luar dalam. Dan ini yang sempat membuat ku terkejut. Dia memang
pandai dalam mengolah kata-kata, cerdas dalam mengolah informasi, dan jelas
dalam penyampaian informasi tersebut, tapi ucapan dan perbuatannya sering tidak
kompak. Apa yang yang dia sampaikan sendiri tidak bisa dia lakukan.
Hal itulah yang pernah membuat persahabat kami sempat retak.
Itu terjadi saat kami masih berada di organisasi yang sama. Kejadian itu bahkan
sempat membuat para senior turun tangan untuk mendamaikan kami. Mau bagaimana
lagi, mereka juga terpaksa, karena di deperteman itu perempuannya hanya tiga
orang saja, sedangkan perempuan yang satu lagi tidak terlalu aktif. Otomatis segala
tanggung jawab yang berhubungan dengan perempuan ga ada yang menghandle.
10 hari tepatnya kami tidak bertegur sapa. Padahal islam
melarang umatnya untuk mengabaikan saudara seimannya lebih dari tiga hari. Terasa
ada yang hilang. tidak ada lagi celutukan dan saling ejek-mengejek, tidak ada
lagi obrolan memakai bahasa planet, dan tidak ada lagi senyum tawa diantara kami
berdua.
Tepat hari kesebelas, dia pun berbesar hati mendatangi ku
untuk minta maaf. Awalnya aku sempat mengabaikannya, tapi kemudian aku sendiri
juga ga tega ketika melihat dia sampai menangis minta maaf pada ku. kami pun saling berpelukan
sambil menangis seperti anak kecil (cengeng yach!!).
Itulah pertengkaran pertama kami dan sekaligus yang paling
lama. Tapi bukan berarti itu menjadi pertengkaran terakhir. Sama-sama memiliki sifat egois dan keras kepala
membuat kami sering bertengkar kecil. Tapi setelah itu pasti ada yang mengalah
duluan. Karena kami ga mau kejadian yang sama terjadi lagi.
Dari dia aku banyak belajar mengalah, mengerti dan memahami.
Aku selalu berharap persahabat ini kekal selamanya. Tidak masalah kalau kami
harus terus menjalaninya dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Karena itu
semua proses untuk membuat aku dan dia agar lebih dewasa dalam menanggapi sebuah
masalah.