Jumat, 27 Juni 2014

Jenuh


Apa yang terjadi…
Kenapa semakin hari aku semakin aneh
Tak ada yang bisa aku lakukan
Setiap rencana tidak pernah terlaksana
Ada-ada saja halangan untuk ku mengerjakannya
Gimana hidup ku bisa bergerak maju
Kalau aku tidak melakukan pergerakan sedikit pun

Jenuh…
Aku mulai jenuh dengan kehidupan ku
Entah apa sebenarnya yang aku inginkan
Apa yang aku harapkan
Kenapa diri ku tidak termotivasi sedikit pun
Apakah aku terlalu egois
Atau aku sebenarnya tidak punya tujuan hidup
Seolah-olah tidak terkendali
Tidak terencana
Tak ada keinginan
Seperti perahu tanpa dayung di atas laut
Bergerak kemana angin membawanya
Tanpa ada perlawanan
Hanya harus melompat kalau ingin mengubah haluan sendiri
Tapi harus menanggung resiko yang besar
Tenggelam atau di mangsa predator laut
Semua pilihan ada di tangan ku







Senin, 23 Juni 2014

Sahabat


Aku mempunyai seorang sahabat yang ga kalah gilanya dari aku. Itu yang sering membuat kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan ketika bertemu. Ada-ada aja yang diomongin. Teman-teman yang lain sering terbengong-bengong kalau udah liat kami ngobrol. Seperti orang bertengkar kata mereka. Bagaimana ga, sama-sama keturunan batak kalau udah ketemu pastinya bisa ngalahin suara mobil fuso sekalipun (lebay he..he..).

Belum lagi kalau kami udah mulai memakai bahasa planet (baca: batak) , asli semua mata akan tertuju pada kami. Yang lain juga sering nyindir kalau kami udah ketemu, mereka pasti berkomentar “Dua alien udah ketemu, siap-siap tutup telinga dech”.

Selain konyol, cerewet, dan lucu, dia juga cerdas dalam berkomunikasi. Maksudnya, dia pintar mengolah kata-kata menjadi sebuah kalimat yang keren banget. Intonasi suara dan pengucapannya sering membuat ku terkagum-kagum kalau sudah mendengar dia berargumen.

Pernah suatu kali kami di tempatkan dalam satu departemen di salah satu organisasi kampus. Di situlah awal kekaguman ku padanya. Bagaimana dia bisa dengan mudah menyampaikan pendapatnya mengenai program kerja yang akan kita laksanakan. Atau bagaimana dia dengan mudah mematahkan pendapat kami ketika dia tidak setuju dengan pendapat tersebut. Kata-katanya yang lugas, mantap, dan mudah dimengerti mampu menyihir kami untuk menerima pendapatnya.

Keren!!! Satu kata dari ku untuk mencerminkan kemampuan dia dalam berbahasa. Jelas, padat, dan tidak bertele-tele begitulah ciri-cirinya dalam menyampaikan kalimat. Bahkan yang paling senior pun sering meminta pendapatnya.

Seiring berjalannya waktu, semakin aku mengenal kepribadiannya luar dalam. Dan ini yang sempat membuat ku terkejut. Dia memang pandai dalam mengolah kata-kata, cerdas dalam mengolah informasi, dan jelas dalam penyampaian informasi tersebut, tapi ucapan dan perbuatannya sering tidak kompak. Apa yang yang dia sampaikan sendiri tidak bisa dia lakukan.

Hal itulah yang pernah membuat persahabat kami sempat retak. Itu terjadi saat kami masih berada di organisasi yang sama. Kejadian itu bahkan sempat membuat para senior turun tangan untuk mendamaikan kami. Mau bagaimana lagi, mereka juga terpaksa, karena di deperteman itu perempuannya hanya tiga orang saja, sedangkan perempuan yang satu lagi tidak terlalu aktif. Otomatis segala tanggung jawab yang berhubungan dengan perempuan ga ada yang menghandle.

10 hari tepatnya kami tidak bertegur sapa. Padahal islam melarang umatnya untuk mengabaikan saudara seimannya lebih dari tiga hari. Terasa ada yang hilang. tidak ada lagi celutukan dan saling ejek-mengejek, tidak ada lagi obrolan memakai bahasa planet, dan tidak ada lagi senyum tawa diantara kami berdua.

Tepat hari kesebelas, dia pun berbesar hati mendatangi ku untuk minta maaf. Awalnya aku sempat mengabaikannya, tapi kemudian aku sendiri juga ga tega ketika melihat dia sampai menangis  minta maaf pada ku. kami pun saling berpelukan sambil menangis seperti anak kecil (cengeng yach!!).

Itulah pertengkaran pertama kami dan sekaligus yang paling lama. Tapi bukan berarti itu menjadi pertengkaran terakhir.  Sama-sama memiliki sifat egois dan keras kepala membuat kami sering bertengkar kecil. Tapi setelah itu pasti ada yang mengalah duluan. Karena kami ga mau kejadian yang sama terjadi lagi.

Dari dia aku banyak belajar mengalah, mengerti dan memahami. Aku selalu berharap persahabat ini kekal selamanya. Tidak masalah kalau kami harus terus menjalaninya dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Karena itu semua proses untuk membuat aku dan dia agar lebih dewasa dalam menanggapi sebuah masalah.





Sabtu, 21 Juni 2014

Pagi Ku


Di pagi yang cerah ini seorang Dey lagi ngambek. Berbagai cara telah aku lakukan untuk dapat meluluhkan hati mu…(ko malah nyanyi sich). Adewww, susah banget sich ngebujuk anak satu ini. Pada akhirnya aku mencoba resep turun temurun dari neneknya nenek, nenek monyang ku. apakah itu??? Anda penasaran!!! Saya tidak!!!

Oke, berhenti main-main Ande. Aku akan menjawabnya sekarang terengggg….terengggg…(suara music cempreng mengalun) “JURUS MENGGOMBAL”.

Begitu melihat mukanya yang cembetut, rasa ingin tau ku pun bangkit dan mulai melakukan wawancara dengan narasumber terkait (wartawan gagal nich).

Aku: kenapa dey?
Dey: (Hanya diam seribu bahasa, bahkan tak ada respon sedikit pun. Kacian the gue dicuekin)
Aku: (Memandang matanya sambil berucap) ada pelangi di mata mu…
Dey: (Masih tidak ada respon)
Aku: (Mulai berfikir keras) pagi ini cuacanya cerah, tapi ko aku ngerasa ada yang hilang! Apa yach…???
Dey: (Masih belum ngeh…)
Aku: Dey, tadi mataharinya berbisik pada ku, kalau kalau aku ga berhasil membuat bidadari di kamar ini tersenyum maka matahari akan berhenti bersinar. Tersenyumlah donk Dey, masa kamu tega membuat pagi yang cerah ini jadi mendung.
Dey: (Tersenyum dan mulai memukuli ku) kakak…aku kan lagi ngambek…
Aku: Ngambek ko bilang-bilang…lagian kenapa sich…emang aku salah apa?
Dey: (Mulai lagi dengan wajah cemberut)
Aku: Oke stop…aku lebih malas ngeliat muka seperti itu…kamu harus cerita sambil tersenyum…
Dey: (Mulai tertawa) ha…ha… emang aku orang gila…lagian gimana bisa cerita sambil tersenyum, ada-ada aja kakak nich…
Aku: Gitu donk!!! Itu baru Dey yang aku kenal…”welcome to the jungle”
Dey: Apa hubungannya sama jungle…
Aku: Biarin…suka-suka aku donk! mulut-mulut aku…
Dey: Sekarang siapa yang cemberut, ayok…Wwkkkk…wwkkk…(tertawa terpikal-pikal).

Begitulah suasana pagi ku yang terkadang bisa mengganggu teman kos lainnya. Tapi berhubung mereka orang-orang yang baik hati dan tidak sombong jadi mereka ngerti aja, kalau mereka punya teman kos yang paling senior tapi paling kekanak-kanakan diantara yang lainnya.

Ingat satu hal teman, apapun yang aku tulis saat ini belum tentu sesuai dengan yang sebenarnya di lapangan. Terkadang itu semua aku lebay-lebay-in, agar terdengar lebih menarik untuk di baca. Jadi aku sarankan kepada kalian jangan terlalu mempercayai 100% tulisan ini, karena itu hanya akan membuat mu semakin tersesat kedalam pemikiran dangkal mu. Cobalah berfikir luas dan anggap apa yang aku tulis hanya sebagai hiburan semata, atau hibur-hiburan dua mata he..he…






Jumat, 13 Juni 2014

Melupakan Mu Butuh Waktu Berapa Lama?

Kenapa begitu sulit melupakan mu. Berbagai cara telah aku lakukan, mulai dari menyibukkan diri dengan perkuliahan, hunting foto, hangout, jogging, tapi hal itu tak sedikit pun bisa menghapus bayangan mu di pikiran ku. apalagi kah yang harus aku lakukan untuk bisa melupakan mu.

Untuk mencintai mu memang tidak butuh lama bagi ku, tapi untuk melupakan mu kenapa harus memakan waktu lama. Kenapa mencintai tidak seperti melupakan. Sampai kapan aku akan terus terjebak dengan perasaan ini? Apakah aku akan terus seperti ini?

Apakah kamu masih ingat dengan buku yang menjadi saksi bisu komunikasi kita? kita terpaksa menggunakan buku sebagai perantara komunikasi karena kamu tidak bisa mendengar aku berbicara, sedangkan aku belum terlalu bisa bahasa isyarat.

Buku itu masih ku simpan Re. buka yang tadi ingin aku lenyapkan agar aku bisa melupakan mu dengan cepat, tapi aku tak sanggup. Buka yang menjadi satu-satunya kenangan kebersamaan kita. Terkadang aku suka senyum-senyum sendiri seperti orang gila ketika aku membaca buku itu. Tulisan kita yang berantakan, membuat ku bingung membacanya. Tapi itu tidak penting bagi ku.

Kamu orang yang paling sering mendengar keluhan ku ketika aku menjalani hari-hari sulit pada saat PL (Praktek Lapangan). Jadwal ku yang hanya bisa sekali seminggu ke kota P untuk kuliah, biasanya tak pernah ku lewatkan tanpa menemui mu. Walaupun letih setelah menempuh perjalanan, hal itu tak mengurungkan niat ku untuk melihat senyum mu walau hanya sejenak. Terkadang kamu prihatin, melihat wajah ku yang semakin kuyu, mencerminkan letih yang teramat sangat.

Moment yang paling aku rindukan adalah saat kamu meminta ku untuk beristirahat sejenak sambil menyandarkan kepala ku di pundak mu, lalu aku menggenggam tangan mu dengan erat sambil berucap “Terima Kasih Re”.

Senyum manis mu saja sebenarnya sudah bisa menghilangkan lelah ku. itulah kenapa aku tidak pernah absen untuk menemui mu, walau badan ini lelah. Karena aku merindukan senyum itu, senyum yang dapat menyihir ku untuk tak berpaling dari mu, senyum tulus yang selalu menyambut kedatangan ku, dan senyum itu juga yang mengantar kepergian ku.

Ketika seorang teman mengatakan “kalau patah hati itu obatnya hati lagi”, itu memang benar. Tapi ketika kita sudah bisa melupakan hati yang lama.  Kalau tidak, berarti kita cuma mencari pelampiasan saja. Mencari hati yang lain untuk melupakanmu bukanlah cara yang baik menurut ku.


Apa pun yang terjadi pada ku itu semua adalah rencana Allah. Mungkin aku masih belum bisa mencintai dengan benar, aku masih harus belajar lebih banyak lagi untuk mengerti dan memahami cinta itu sendiri. Semuanya butuh proses Ande, Lama atau cepat nya kita tidak pernah tau.









Minggu, 01 Juni 2014

Kehilangan Jejak Mu



Telah dua kali aku menelusuri pantai tempat kita biasa bertemu, tapi tak sekalipun aku melihat mu. Nomor HP mu bahkan sudah tidak aktif lagi. Ada apakah gerangan Re…

Apakah kamu marah pada ku? sehingga kamu mengganti nomor. Atau kamu sudah benar-benar kecewa karena aku telah lama tidak memberi kabar.

Maaf kan aku Re…

Ini semua salah ku. Tidak mudah bagi ku untuk bertemu, setelah semua yang aku rasakan pada mu. Dengan semua kebaikan yang kamu berikan, perhatian, dan kasih sayang, semakin membuat ku sulit untuk menerima kenyataan.

Aku butuh waktu Re…

Aku butuh waktu untuk menata hati ku lagi. Untuk meyakinkan hati ku kalau yang terbaik untuk hubungan ini hanyalah persahabatan. Tapi begitu aku menyadari semuanya, aku harus menerima kenyataan kalau aku harus lost contact dengan mu.

Dimanakah gerakan kamu berada Re? apakah kamu ingin balas dendam padaku? atau ini karma yang harus aku terima?

Jika kamu ingin marah pada ku, marahlah!!! Aku akan terima semua apa yang kamu sampaikan. Tidak ada lagi kabur-kaburan atau menghindar.

Aku merindukan mu Re…

Sebagai teman, Sebagai sahabat dan sebagai saudara, tidak lebih. Aku tidak ingin kehilangan sahabat lagi Re. kamu salah satu sahabat terbaik ku.

Dimanapun kamu berada sekarang, aku berharap kamu selalu bahagia. Aku juga berharap kamu bisa mendapatkan pendamping yang baik, yang akan selalu menyayangi mu, menjaga mu, dan menerima mu apa adanya. Karena kamu pantas untuk mendapatkan semua itu.

Kalau Allah mengizinkan suatu saat nanti kita pasti bisa bertemu lagi. Aku akan menunggu saat itu Re. dan ketika saat itu tiba aku akan minta maaf  langsung pada mu.