Jumat, 17 Oktober 2014

Aku Butuh Sandaran (Sahabat)

Aku tertawa terpikal-pikal ketika mendengar dia bercerita. Bukannya senang, dia malah heran melihat reaksi ku.

“Kamu kenapa Nde?”
“Ga kenapa-napa, aku geli mendengar cerita mu”. (Masih tertawa)

Dia pun terdiam sambil memperhatikan ku yang sedang mencoba menghentikan tawa. Perut rasanya sampai sakit karena terlalu banyak tertawa. Begitu suasana tenang kembali, dia pun bertanya lagi sambil memandang mata ku dengan lekat

“Nde…kamu lagi ada masalah?”
“Ha..ha..aku lagi tertawa senang begini kok kamu bilang ada masalah”
“Cerita ku aja ga lucu, kenapa kamu bisa sampai tertawa terpikal-pikal seperti tadi”
“Masa sih, padahal menurut aku lucu banget lho!”
“Nde…aku mengenal kamu bukan sehari, seminggu, atau sebulan, tapi aku mengenal mu 6 tahun. Aku tau ekspresi mu saat ini. Kamu masih mau bilang kalau kamu baik-baik aja?”

Suasana hening. Tanpa terasa air mata ku menetes, dengan pelan aku berucap “Aku capek Ra” tangis ku pun langsung pecah. Ira yang melihat adegan itu langsung memeluk ku dengan erat.

Satu jam lamanya aku menangis di pelukannya. Dia tak berkata sepatah kata, begitu pun aku. Setelah aku bisa menenangkan diri, dia pun memberanikan diri bertanya

“Kamu ada masalah apa? cerita aja, siapa tau aku bisa bantu.”
“He..he..(Mencoba tertawa) maaf, aku belum bisa cerita saat ini Ra.”
“Ya udah ga apa-apa. Gimana sekarang, udah baikan?”
“ Udah. Terima kasih Ra”
“Sama-sama Nde”

Maaf Sahabat, bukan aku tidak ingin bercerita pada mu. Tapi aku belum siap untuk Coming Out pada mu, dan aku yakin kamu juga belum siap untuk mendengarnya. Walaupun aku yakin kamu tidak akan menjauhi  ku seandainya kamu tau aku Lesbian.

Saat ini yang paling aku butuhkan hanyalah sandaran untuk menumpahkan sesak di hati ini. Pelukan yang engkau berikan sudahlah cukup buat ku. Terma kasih banyak Sahabat.

.


3 komentar: