Senin, 23 Juni 2014

Sahabat


Aku mempunyai seorang sahabat yang ga kalah gilanya dari aku. Itu yang sering membuat kami tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan ketika bertemu. Ada-ada aja yang diomongin. Teman-teman yang lain sering terbengong-bengong kalau udah liat kami ngobrol. Seperti orang bertengkar kata mereka. Bagaimana ga, sama-sama keturunan batak kalau udah ketemu pastinya bisa ngalahin suara mobil fuso sekalipun (lebay he..he..).

Belum lagi kalau kami udah mulai memakai bahasa planet (baca: batak) , asli semua mata akan tertuju pada kami. Yang lain juga sering nyindir kalau kami udah ketemu, mereka pasti berkomentar “Dua alien udah ketemu, siap-siap tutup telinga dech”.

Selain konyol, cerewet, dan lucu, dia juga cerdas dalam berkomunikasi. Maksudnya, dia pintar mengolah kata-kata menjadi sebuah kalimat yang keren banget. Intonasi suara dan pengucapannya sering membuat ku terkagum-kagum kalau sudah mendengar dia berargumen.

Pernah suatu kali kami di tempatkan dalam satu departemen di salah satu organisasi kampus. Di situlah awal kekaguman ku padanya. Bagaimana dia bisa dengan mudah menyampaikan pendapatnya mengenai program kerja yang akan kita laksanakan. Atau bagaimana dia dengan mudah mematahkan pendapat kami ketika dia tidak setuju dengan pendapat tersebut. Kata-katanya yang lugas, mantap, dan mudah dimengerti mampu menyihir kami untuk menerima pendapatnya.

Keren!!! Satu kata dari ku untuk mencerminkan kemampuan dia dalam berbahasa. Jelas, padat, dan tidak bertele-tele begitulah ciri-cirinya dalam menyampaikan kalimat. Bahkan yang paling senior pun sering meminta pendapatnya.

Seiring berjalannya waktu, semakin aku mengenal kepribadiannya luar dalam. Dan ini yang sempat membuat ku terkejut. Dia memang pandai dalam mengolah kata-kata, cerdas dalam mengolah informasi, dan jelas dalam penyampaian informasi tersebut, tapi ucapan dan perbuatannya sering tidak kompak. Apa yang yang dia sampaikan sendiri tidak bisa dia lakukan.

Hal itulah yang pernah membuat persahabat kami sempat retak. Itu terjadi saat kami masih berada di organisasi yang sama. Kejadian itu bahkan sempat membuat para senior turun tangan untuk mendamaikan kami. Mau bagaimana lagi, mereka juga terpaksa, karena di deperteman itu perempuannya hanya tiga orang saja, sedangkan perempuan yang satu lagi tidak terlalu aktif. Otomatis segala tanggung jawab yang berhubungan dengan perempuan ga ada yang menghandle.

10 hari tepatnya kami tidak bertegur sapa. Padahal islam melarang umatnya untuk mengabaikan saudara seimannya lebih dari tiga hari. Terasa ada yang hilang. tidak ada lagi celutukan dan saling ejek-mengejek, tidak ada lagi obrolan memakai bahasa planet, dan tidak ada lagi senyum tawa diantara kami berdua.

Tepat hari kesebelas, dia pun berbesar hati mendatangi ku untuk minta maaf. Awalnya aku sempat mengabaikannya, tapi kemudian aku sendiri juga ga tega ketika melihat dia sampai menangis  minta maaf pada ku. kami pun saling berpelukan sambil menangis seperti anak kecil (cengeng yach!!).

Itulah pertengkaran pertama kami dan sekaligus yang paling lama. Tapi bukan berarti itu menjadi pertengkaran terakhir.  Sama-sama memiliki sifat egois dan keras kepala membuat kami sering bertengkar kecil. Tapi setelah itu pasti ada yang mengalah duluan. Karena kami ga mau kejadian yang sama terjadi lagi.

Dari dia aku banyak belajar mengalah, mengerti dan memahami. Aku selalu berharap persahabat ini kekal selamanya. Tidak masalah kalau kami harus terus menjalaninya dengan pertengkaran-pertengkaran kecil. Karena itu semua proses untuk membuat aku dan dia agar lebih dewasa dalam menanggapi sebuah masalah.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar