Aku ingat perkenalan pertama ku
dengan mu ketika aku telah putus dengan mantan yang sebelumnya yang umur
hubungan kami pun tak lama. Aku sendiri pun lupa berapa lamanya, tapi yang
pasti tak lebih dari 2 minggu. Saat itu aku benar-benar sedang tidak mood untuk
diajak ngobrol, tapi kamu terus saja bertanya tentang aku. Lama-lama kamu
mengerti juga dari jawaban-jawaban singkat ku dan tak adanya respon ku untuk
bertanya kembali.
Seiring berjalannya waktu
komunikasi kita semakin baik, walaupun secara terang-terangan aku berkata kalau
aku belum siap untuk memulai hubungan baru lagi. Tapi jawaban mu hanya satu “Asalkan
kamu mau mengizinkan aku untuk menunggu, aku akan menunggu, karena hati ku
sudah yakin dengan mu”. Jujur aku tidak begitu saja percaya dengan ucapan mu. Begitu
cepat rasanya kamu mengucapan sayang dan cinta padahal kamu belum pernah
bertemu dengan ku, bercerita sambil memandang satu sama lain. Aku percaya pada
cinta pada pandangan pertama, karena
aku pernah mengalami sebelumnya. Tapi aku tidak percaya cinta pada pendengaran pertama, terlalu aneh untuk
ku.
Perhatian dan pengertian mu
lambat laun dapat merubah arah pandang ku. Membuat ku semakin yakin untuk
menjalani hubungan lebih jauh, bukan hanya sekedar teman, sahabat atau seorang kakak.
Bismillah, aku pun mengungkapkan perasaan ku pada mu lewat BBM, karena kalau
secara langsung aku malu. Waktu itu tanggal
07 September 2014, pukul 05.00 wib, aku mengungkapkannya setelah sholat subuh. Waktu
kamu masih bertanya-tanya karena tidak percaya dengan BBM yang aku kirim.
Seandainya waktu itu kamu melihat secara langsung kamu
pasti akan tertawa keras karena muka ku yang memerah menahan malu. Aku tidak
terbiasa mengungkapkan perasaan sayang kepada orang lain, bahkan itu Ibu ku
sendiri. Mungkin benar apa kata teman ku kalau aku gengsian orangnya he...he...
Seperti kebanyakan pasangan
lainnya, kita menjalani hari dengan perhatian dan pengertian. Walau terkadang
ada ribut-ribut kecil, tapi kita dapat mengatasinya. Namanya juga LDR pastinya
lebih banyak salah faham diantara kita, ditambah lagi kita berdua sama-sama
keras kepala, jadi harus menunggu waktu yang cukup lama agar ada diantara kita
yang mau mengalah.
Sejak lama kita telah
merencanakan untuk bertemu satu sama lain walau hanya beberapa hari saja. Awalnya
kamu yang ingin berkunjung ke sini yang rencananya akhir Oktober ini. Tapi berhubung
aku akhir oktober ini akan sibuk untuk menghadapi ujian Mid Semester dan
pastinya tak akan banyak waktu luang, jadi aku putuskan untuk aku yang akan datang
ke Jakarta mengunjungi mu sekalian lebaran Idul Adha di sana.
02 Oktober 2014, pukul 18.20 wib,
aku bertolak dari sini ke Jakarta untuk menemui mu. Walau dengan badan yang
super capek karena malamnya tak tidur dikarenakan tugas kuliah yang harus di
kelarin agar tak harus mikirin lagi sesampai di sana. Jujur sebenarnya aku
deg-degan banget menjelang bertemu dengan mu. Apa yang harus aku lakukan ketika
bertemu dengan mu,bagaimana tanggapan mu nanti terhadap ku.
Benar saja pertemuan pertama
benar-benar canggung, kita bahkan tidak saling memandang. Kamu langsung saja
menggandeng ku menuju ke parkiran dengan masih memunggungi ku. duh…kalau
diingat-ingat moment pada saat itu aku bisa senyum-senyum sendiri. Dan anehnya
setelah berapa lama kamu menggandeng ku, kamu tiba-tiba melihat ku lalu berucap
“Ternyata kamu kecil yah dek!”. “lho, baru nyadar kak, ha…ha…” balasku sambil
tertawa. (sebenarnya bukan aku yang kecil, tapi dianya yang ketinggian he…he…)
Hari-hari kita lewati untuk lebih
mengenal lagi satu sama lain. Aku jadi lebih tau kamu, dan keluarga mu. Keluarga mu benar-benar menerima ku
dengan baik, menyenangkan bisa mengenal mereka. Terutama Mama mu, baik banget
dan juga lucu plus cerewet (seperti kamu
he..he..,jadi ingat mama sendiri).
Ada canda, tawa dan pertengakaran
yang awalnya masih bisa kita atasi bersama. Tapi semakin kesini aku semakin
tidak bisa mengatasinya, terutama cemburu mu yang berlebihan dan sifat tempramen
mu yang membuat ku takut.
Puncaknya ketika kamu marah-marah
karena cemburu melihat sikap aku terhadap teman yang aku anggap seperti adek
sendiri. Padahal waktu itu malam dan kita sedang di atas motor dalam perjalanan
pulang ke rumah mu. Aku masih ingat dengan jelas bagaimana marahnya kamu berteriak dan
membentak-bentak ku. Aku benar-benar takut setengah mati, tubuh ku sampai
bergetar hebat, jantung ku memacu dengan cepat, keringat dingin mengalir
membanjiri tubuh ku (padahal waktu itu cuaca dingin malam hari). Kalau aku saja
saat itu aku tau Jakarta dan jalan pulang aku pasti minta di turunkan di
pinggir jalan saja.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar