Sabtu, 11 Oktober 2014

28 HARI (Bag.1)

Aku ingat perkenalan pertama ku dengan mu ketika aku telah putus dengan mantan yang sebelumnya yang umur hubungan kami pun tak lama. Aku sendiri pun lupa berapa lamanya, tapi yang pasti tak lebih dari 2 minggu. Saat itu aku benar-benar sedang tidak mood untuk diajak ngobrol, tapi kamu terus saja bertanya tentang aku. Lama-lama kamu mengerti juga dari jawaban-jawaban singkat ku dan tak adanya respon ku untuk bertanya kembali.

Seiring berjalannya waktu komunikasi kita semakin baik, walaupun secara terang-terangan aku berkata kalau aku belum siap untuk memulai hubungan baru lagi. Tapi jawaban mu hanya satu “Asalkan kamu mau mengizinkan aku untuk menunggu, aku akan menunggu, karena hati ku sudah yakin dengan mu”. Jujur aku tidak begitu saja percaya dengan ucapan mu. Begitu cepat rasanya kamu mengucapan sayang dan cinta padahal kamu belum pernah bertemu dengan ku, bercerita sambil memandang satu sama lain. Aku percaya pada cinta pada pandangan pertama, karena aku pernah mengalami sebelumnya. Tapi aku tidak percaya cinta pada pendengaran pertama, terlalu aneh untuk ku.

Perhatian dan pengertian mu lambat laun dapat merubah arah pandang ku. Membuat ku semakin yakin untuk menjalani hubungan lebih jauh, bukan hanya sekedar teman, sahabat atau seorang kakak. Bismillah, aku pun mengungkapkan perasaan ku pada mu lewat BBM, karena kalau secara langsung  aku malu. Waktu itu tanggal 07 September 2014, pukul 05.00 wib, aku mengungkapkannya setelah sholat subuh. Waktu kamu masih bertanya-tanya karena tidak percaya dengan BBM yang aku kirim.

Seandainya  waktu itu kamu melihat secara langsung kamu pasti akan tertawa keras karena muka ku yang memerah menahan malu. Aku tidak terbiasa mengungkapkan perasaan sayang kepada orang lain, bahkan itu Ibu ku sendiri. Mungkin benar apa kata teman ku kalau aku gengsian orangnya he...he...

Seperti kebanyakan pasangan lainnya, kita menjalani hari dengan perhatian dan pengertian. Walau terkadang ada ribut-ribut kecil, tapi kita dapat mengatasinya. Namanya juga LDR pastinya lebih banyak salah faham diantara kita, ditambah lagi kita berdua sama-sama keras kepala, jadi harus menunggu waktu yang cukup lama agar ada diantara kita yang mau mengalah.

Sejak lama kita telah merencanakan untuk bertemu satu sama lain walau hanya beberapa hari saja. Awalnya kamu yang ingin berkunjung ke sini yang rencananya akhir Oktober ini. Tapi berhubung aku akhir oktober ini akan sibuk untuk menghadapi ujian Mid Semester dan pastinya tak akan banyak waktu luang, jadi aku putuskan untuk aku yang akan datang ke Jakarta mengunjungi mu sekalian lebaran Idul Adha di sana.

02 Oktober 2014, pukul 18.20 wib, aku bertolak dari sini ke Jakarta untuk menemui mu. Walau dengan badan yang super capek karena malamnya tak tidur dikarenakan tugas kuliah yang harus di kelarin agar tak harus mikirin lagi sesampai di sana. Jujur sebenarnya aku deg-degan banget menjelang bertemu dengan mu. Apa yang harus aku lakukan ketika bertemu dengan mu,bagaimana tanggapan mu nanti terhadap ku.

Benar saja pertemuan pertama benar-benar canggung, kita bahkan tidak saling memandang. Kamu langsung saja menggandeng ku menuju ke parkiran dengan masih memunggungi ku. duh…kalau diingat-ingat moment pada saat itu aku bisa senyum-senyum sendiri. Dan anehnya setelah berapa lama kamu menggandeng ku, kamu tiba-tiba melihat ku lalu berucap “Ternyata kamu kecil yah dek!”. “lho, baru nyadar kak, ha…ha…” balasku sambil tertawa. (sebenarnya bukan aku yang kecil, tapi dianya yang ketinggian he…he…)

Hari-hari kita lewati untuk lebih mengenal lagi satu sama lain. Aku jadi lebih tau kamu, dan keluarga  mu. Keluarga mu benar-benar menerima ku dengan baik, menyenangkan bisa mengenal mereka. Terutama Mama mu, baik banget dan juga lucu plus cerewet  (seperti kamu he..he..,jadi ingat mama sendiri).

Ada canda, tawa dan pertengakaran yang awalnya masih bisa kita atasi bersama. Tapi semakin kesini aku semakin tidak bisa mengatasinya, terutama cemburu mu yang berlebihan dan sifat tempramen mu yang membuat ku takut.


Puncaknya ketika kamu marah-marah karena cemburu melihat sikap aku terhadap teman yang aku anggap seperti adek sendiri. Padahal waktu itu malam dan kita sedang di atas motor dalam perjalanan pulang ke rumah mu. Aku masih ingat dengan jelas  bagaimana marahnya kamu berteriak dan membentak-bentak ku. Aku benar-benar takut setengah mati, tubuh ku sampai bergetar hebat, jantung ku memacu dengan cepat, keringat dingin mengalir membanjiri tubuh ku (padahal waktu itu cuaca dingin malam hari). Kalau aku saja saat itu aku tau Jakarta dan jalan pulang aku pasti minta di turunkan di pinggir jalan saja.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar