Ajaibnya begitu sampai rumah kamu
bersikap seperti biasa lagi, seperti tidak terjadi apa-apa di antara kita.
padahal pertengkaran itu terjadi 15 menit sebelumnya. Aku bertanya-tanya dalam
hati bagaimana kamu bisa bersikap biasa saja setelah apa yang telah terjadi. Aku
bahkan masih belum bisa meredakan jantung ku yang masih berdetak dengan
kencang. Apa kamu tau setelah itu jadi takut menghadapi mu. Aku benar-benar harus
memperhatikakan semua ucapan dan tingkah ku karena tak ingin melihat mu marah
seperti sebelumnya.
05 Oktober 2014 tepatnya pada
malam pertengkaran hebat yang terjadi diantara kita. Ku putus kan untuk
berbicara baik-baik dengan mu, kebetulan suasana saat itu mendukung. Dengan hati-hati
aku pun memulai pembicaraan
“Maaf sebelumnya kak kalau
omongan aku menyakiti kakak. Tapi aku benar-benar harus mengatakan ini
sekarang. Aku ga bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Aku ga kuat di
bentak-bentak dan dimarahi seperti itu, kakak tau kalau aku punya trauma masa
kecil tentang itu. Aku capek kalau harus
menjalani hubungan yang seperti ini, menghadapi sikap kakak yang
tempramen dan kekanak-kanakan. Aku udah memikirkan ini baik-baik, aku mau kita
berteman aja”
“Ya udah, kalau itu memang mau
kamu, aku akan melepas mu. Walaupun jujur sebenarnya aku berat harus melepas
mu, karena aku benar-benar sayang banget sama mu dek, aku belum bisa kehilangan
kamu. Tapi dari pada kamu tersiksa dengan semua tingkah ku, aku dengan berat
hati akan melepas mu.”
Kamu pun menggenggam tangan ku
dengan erat sambil berucap “Aku bisa minta sesuatu ga untuk terakhir kalinya”. “Apa?”
jawab ku sambil memandang wajah mu. Aku melihat mata mu telah berkaca-kaca. “Aku
mau memelukmu untuk terakhir kalinya, boleh?”, tanpa menjawab akupun langsung
memeluk mu dengan erat. Perlahan aku mendengar isak tangis mu sambil membenamkan
wajah mu di pelukan ku. (maaf untuk semuanya kak…)
07 Oktober 2014 pagi kamu
mengantar ku ke bandara. Saatnya bagi ku untuk pulang, karena liburan ku telah
selesai. Hari itu kamu masih bertanya pada ku “Kamu ga sedih yah dek pisah dari
aku?”. Aku tau kamu menanyakan hal itu karena sikap ku yang biasa saja, tak ada
guratan sedih sedikit pun di wajah ku. “Tidak ada yang harus di sedihkan kak,
toh kita masih bisa berhubungan baik setelah ini. Hidup harus terus berjalan,
kita tidak pernah tau jodoh kita siapa, di nikmati aja prosesnya kak”. “Aku
masih menunggu mu dek”, balas mu. “Tidak usah kak, aku butuh waktu lama untuk
menata hati lagi. Untuk bisa menerima seseorang lagi sekalipun itu dari masa
lalu”.
Kalau harus berkata jujur
sebenarnya aku juga sedih banget berpisah dengan mu. Aku benar-benar menyayangi
mu dengan tulus. Tapi mungkin inilah yang terbaik untuk kita. bukan Cuma untuk
aku, tapi kamu juga. Aku tau betapa dongkolnya kamu menghadapi aku yang keras
kepala dan cuex setengah setengah mati. Bagaimana perjuangan mu untuk membuat
ku cemburu dengan menceritakan semua mantan pacar dan mantan gebetan mu tapi
aku malah tidak bergeming sedikit pun.
Tapi bagaimana pun kisah masa
lalu kita, setidaknya sampai sekarang kita masih bisa berhubungan dengan baik
selayaknya sahabat. Terakhir kamu bilang sendiri kalau kamu telah punya gebetan
baru, dan minta maaf karena tak bisa menepati janji untuk menunggu ku. aku
turut senang kak, semoga yang sekarang ini yang terbaik yang Allah berikan
untuk mu. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar