Sabtu, 11 Oktober 2014

28 HARI (Bag.2)

Ajaibnya begitu sampai rumah kamu bersikap seperti biasa lagi, seperti tidak terjadi apa-apa di antara kita. padahal pertengkaran itu terjadi 15 menit sebelumnya. Aku bertanya-tanya dalam hati bagaimana kamu bisa bersikap biasa saja setelah apa yang telah terjadi. Aku bahkan masih belum bisa meredakan jantung ku yang masih berdetak dengan kencang. Apa kamu tau setelah itu jadi takut menghadapi mu. Aku benar-benar harus memperhatikakan semua ucapan dan tingkah ku karena tak ingin melihat mu marah seperti sebelumnya.

05 Oktober 2014 tepatnya pada malam pertengkaran hebat yang terjadi diantara kita. Ku putus kan untuk berbicara baik-baik dengan mu, kebetulan suasana saat itu mendukung. Dengan hati-hati aku pun memulai pembicaraan

“Maaf sebelumnya kak kalau omongan aku menyakiti kakak. Tapi aku benar-benar harus mengatakan ini sekarang. Aku ga bisa melanjutkan hubungan ini lagi. Aku ga kuat di bentak-bentak dan dimarahi seperti itu, kakak tau kalau aku punya trauma masa kecil tentang itu. Aku capek kalau harus  menjalani hubungan yang seperti ini, menghadapi sikap kakak yang tempramen dan kekanak-kanakan. Aku udah memikirkan ini baik-baik, aku mau kita berteman aja”

“Ya udah, kalau itu memang mau kamu, aku akan melepas mu. Walaupun jujur sebenarnya aku berat harus melepas mu, karena aku benar-benar sayang banget sama mu dek, aku belum bisa kehilangan kamu. Tapi dari pada kamu tersiksa dengan semua tingkah ku, aku dengan berat hati akan melepas mu.”

Kamu pun menggenggam tangan ku dengan erat sambil berucap “Aku bisa minta sesuatu ga untuk terakhir kalinya”. “Apa?” jawab ku sambil memandang wajah mu. Aku melihat mata mu telah berkaca-kaca. “Aku mau memelukmu untuk terakhir kalinya, boleh?”, tanpa menjawab akupun langsung memeluk mu dengan erat. Perlahan aku mendengar isak tangis mu sambil membenamkan wajah mu di pelukan ku. (maaf untuk semuanya kak…)

07 Oktober 2014 pagi kamu mengantar ku ke bandara. Saatnya bagi ku untuk pulang, karena liburan ku telah selesai. Hari itu kamu masih bertanya pada ku “Kamu ga sedih yah dek pisah dari aku?”. Aku tau kamu menanyakan hal itu karena sikap ku yang biasa saja, tak ada guratan sedih sedikit pun di wajah ku. “Tidak ada yang harus di sedihkan kak, toh kita masih bisa berhubungan baik setelah ini. Hidup harus terus berjalan, kita tidak pernah tau jodoh kita siapa, di nikmati aja prosesnya kak”. “Aku masih menunggu mu dek”, balas mu. “Tidak usah kak, aku butuh waktu lama untuk menata hati lagi. Untuk bisa menerima seseorang lagi sekalipun itu dari masa lalu”.

Kalau harus berkata jujur sebenarnya aku juga sedih banget berpisah dengan mu. Aku benar-benar menyayangi mu dengan tulus. Tapi mungkin inilah yang terbaik untuk kita. bukan Cuma untuk aku, tapi kamu juga. Aku tau betapa dongkolnya kamu menghadapi aku yang keras kepala dan cuex setengah setengah mati. Bagaimana perjuangan mu untuk membuat ku cemburu dengan menceritakan semua mantan pacar dan mantan gebetan mu tapi aku malah tidak bergeming sedikit pun.


Tapi bagaimana pun kisah masa lalu kita, setidaknya sampai sekarang kita masih bisa berhubungan dengan baik selayaknya sahabat. Terakhir kamu bilang sendiri kalau kamu telah punya gebetan baru, dan minta maaf karena tak bisa menepati janji untuk menunggu ku. aku turut senang kak, semoga yang sekarang ini yang terbaik yang Allah berikan untuk mu. Amin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar