Aku tertawa terpikal-pikal ketika mendengar dia bercerita. Bukannya senang, dia malah heran melihat reaksi ku.
“Kamu kenapa Nde?”
“Ga kenapa-napa, aku geli mendengar cerita mu”. (Masih
tertawa)
Dia pun terdiam sambil memperhatikan ku yang
sedang mencoba menghentikan tawa. Perut rasanya sampai sakit karena terlalu
banyak tertawa. Begitu suasana tenang kembali, dia pun bertanya lagi sambil
memandang mata ku dengan lekat
“Nde…kamu lagi ada masalah?”
“Ha..ha..aku lagi tertawa senang begini kok kamu bilang ada
masalah”
“Cerita ku aja ga lucu, kenapa kamu bisa sampai tertawa
terpikal-pikal seperti tadi”
“Masa sih, padahal menurut aku lucu banget lho!”
“Nde…aku mengenal kamu bukan sehari, seminggu, atau sebulan,
tapi aku mengenal mu 6 tahun. Aku tau ekspresi mu saat ini. Kamu masih mau bilang
kalau kamu baik-baik aja?”
Suasana hening. Tanpa terasa air mata ku menetes,
dengan pelan aku berucap “Aku capek Ra” tangis ku pun langsung pecah. Ira yang
melihat adegan itu langsung memeluk ku dengan erat.
Satu jam lamanya aku menangis di pelukannya. Dia tak berkata
sepatah kata, begitu pun aku. Setelah aku bisa menenangkan diri, dia pun
memberanikan diri bertanya
“Kamu ada masalah apa? cerita aja, siapa tau aku bisa bantu.”
“He..he..(Mencoba tertawa) maaf, aku belum bisa cerita saat
ini Ra.”
“Ya udah ga apa-apa. Gimana sekarang, udah baikan?”
“ Udah. Terima kasih Ra”
“Sama-sama Nde”
Maaf Sahabat, bukan aku tidak ingin bercerita pada mu. Tapi aku
belum siap untuk Coming Out pada mu,
dan aku yakin kamu juga belum siap untuk mendengarnya. Walaupun aku yakin kamu
tidak akan menjauhi ku seandainya kamu
tau aku Lesbian.
Saat ini yang paling aku butuhkan hanyalah sandaran untuk
menumpahkan sesak di hati ini. Pelukan yang engkau berikan sudahlah cukup buat
ku. Terma kasih banyak Sahabat.
.
hmmm gitu :) jangan ngerasa kak nde sendirian ya :) ({})
BalasHapusiya dek...selama ada kamu aku ga akan pernah merasa sendirian ^_^
BalasHapusciee cieee
BalasHapus