Dinginnya malam diiringi hujan lebat seolah-olah mewakili
hati ku yang sedang gundah gulana. Terlalu aneh jika aku harus memikirkaan
semuanya akan berakhir seperti ini. Walaupun aku belum memberikan yang terbaik, tapi aku mau belajar. Kita sama-sama
belajar untuk memahami diri masing-masing.
Aku sendiri bahkan tidak tau apa yang terjadi dengan mu. Aku
sudah coba untuk membukka komunikasi kita, tapi itu pun tidak mengubah apapun. Jadi
sampai disinikah semuanya. Tidak adakah
usahamu untuk memperbaiki semua ini lagi.
Bagimana dengan waktu-waktu yang sudah kita lewati? bagaimana dengan semua kenangan yang pernah kita jalani? Apakah itu hanya sekilas mata untuk mu.
Kamu bilang aku terlalu cuek, tidak pernah menampakkan
cemburu. Kamu juga bilang kalau aku tidak benar-benar mencintai mu. Apakah
hanya itu alasan mu?
Cuek, inilah karakter ku. sejak awal aku bahkan sudah
memberitahu mu. Bukan berarti aku nyaman dengan karakter seperti ini. Aku juga sudah berusaha untuk lebih perhatian lagi, tapi itu semua butuh waktu.
Cemburu…apakah aku salah kalau aku percaya pada mu? Apakah salah
kalau aku yakin kalau kamu bisa menjaga perasaan mu pada ku walaupun kamu masih
dekat dengan mantan mu.
Kita sudah sama-sama dewasa. Aku tidak ingin memberondol
mu terus menerus mengenai kamu dan mantan mu…bukankah hal itu akan membuat mu
sesak...
Aku tidak mencintai mu…haruskah aku teriakkan kepada dunia
kalau “aku mencintai mu”. Aku pernah mengucapkan pada mu kalau aku mencintai mu,
walau ucapan cinta ku tidak sesering ucapan mu.
Aku harus bagaimana lagi, agar kamu percaya kalau aku juga
mencintai mu. Walaupun kamu yang pertama untuk ku tapi aku tidak main-main. Bagaimana
cara membuktikan kalau aku memang serius pada mu.
Tapi keputusan sudah kamu tetap kan. Kamu ingin kita berpisah.
Ya sudah, aku terima.
Walau kecewa, tapi aku tetap menghargai keputusan mu. Aku tidak
mau memaksakan kehendak ku. Kita sudah sama-sama dewasa, apapun keputusan
yang kamu berikan aku yakin kamu sudah memikirkannnya dengan baik.
Walaupun kita tidak bisa memjadi kekasih, tapi kita masih
bisa menjalin hubungan sebagai sahabat, bahkan kamu sering jadi konsultan cinta
ku.
Setahun waktu telah berlalu, kamu mulai mengulang lagi masa
lalu kita.Tiba-tiba kamu berucap “dek, aku ingin kita kembali lagi seperti
dul. Hanya kamu perempuan yang bisa mengerti aku, yang bisa membuat ku tertawa
dan bisa menenangkan ku. Aku masih sayang kamu”.
Tadinya aku pikir kamu hanya bercanda, karena
kamu memang sering menggodaku. Tapi, tidak ada tertawa seperti biasa yang kamu lakukan setelah
kamu menggoda ku. aku benar-benar bingung, tidak tau harus mengatakan apa.
Karena aku terdiam cukup lama, kamu pun berucap “Tidak perlu di jawab sekarang kok dek…aku tau kalau tidak
ada lagi perasaan lebih untuk ku selain sebagai sahabat, aku juga tau kalau kamu
sudah mulai menyukai dia lagi”
“Bukan begitu kak….”
“Ga apa-apa kok dek…,aku tau dari awal kalau hati kamu memang
masih milik nya…”
“Itu gak benar kak…jujur, aku memang menyukainya terlebih
dahulu, tapi semua itu berubah sejak aku mengenal kakak…kakak yang membuat ku bisa
melupakannya. Tapi semuanya pupus, begitu kakak meminta putus. Bahkan
alasan kakak yang tidak masuk akal itu
membuat ku semakin kecewa”
“Maaf dek…”
“Udahlah kak, semua itu hanya masa lalu…untuk saat ini aku
gak mau mikirin hal itu dulu. Sekarang aku mau fokus sama pendidikan ku dulu
kak. Maaf kak…, Kakak gak marah kan? Kita masih bisa berteman kan kak?”
“Iya, ga apa-apa dek…”
“Aku yakin kakak akan mendapat yang lebih baik lagi dari
aku, karena aku tau kakak itu baik.”
“Tapi kakak mau menunggu dek…”
“Jangan pernah menunggu ku kak, karena aku sendiri gak tau
sampai kapan aku siap untuk menjalin hubungan lagi. Kakak harus move on. Bahkan
sampai saat ini perasaan ku sama kakak hanya sebatas sahabat saja, kakak pun
tau itu”
“Jadi kamu mau memulai dengan dia?”
“Ga juga kak…, aku sama dia juga cuma teman. Seperti yang
aku bilang tadi, untuk saat ini mau fokus pada pendidikan dulu tidak mau
memikirkan yang lain.”
“o…ya udah. Semoga sukses dek…”
“Amin…, terima kasih kak…”
Terkadang memang butuh waktu yang lama untuk bisa menyadari
kalau kita benar-benar mencintainya. Dan yang paling menyakitkan adalah ketika
cinta itu sendiri sudah tidak bisa kamu raih. Padahal kamu sendiri yang
melepasnya.
Miris memang…, tapi jangan sampai hal itu malah membuat mu
terpuruk…
Jadikan lah hal itu sebagai pembelajaran untuk mu, agar kamu
tidak dengan mudah melepas apa yang ada di genggaman mu, dan memperjuangkan nya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar