Kamis, 22 Mei 2014

Surat Untuk Ayah (Bag. 1)


Ayah adalah sosok kepala rumah tangga, yang seharusnya memimpin, menjaga, dan mengarahkan keluarganya menjadi lebih baik. Kira-kira seperti itulah sosok  ayah yang ideal menurut ku. Bagi orang yang mempunyai ayah seperti itu pasti sangat beruntung. Setidaknya dia masih bisa membanggakan ayahnya di depan orang lain.

Sejak kecil sampai sekarang ketika teman-teman bercerita mengenai ayahnya, aku biasanya hanya bisa terdiam. Bukan karena sariawan atau tiba-tiba keselek ludah, tapi lebih karena aku tidak tau harus mulai dari mana. Eits…jangan berburuk sangka dulu (GR euy….). Alhamdulillah Ayah masih sehat, masih kuat, dan yang pastinya masih hidup sampai sekarang.

Setelah sekian lama memendam, saat ini, detik ini ingin rasanya menyampaikan semua unek-unek ku pada ayah. Aku ingin menyampaikan apa yang selama ini mengganjal di hati ku, ingin bisa mengobrol berdua layaknya ayah dan putrinya. Menyampaikan apa yang benar dan apa yang salah sambil berjanji untuk sama-sama memperbaiki diri.  Tapi hal itu belum bisa aku lakukan, selain jarak yang memisahkan kita, hati ini juga belum sanggup untuk menyampaikannya secara langsung.

Jadi, berhubung karena aku tidak bisa menyampaikan secara langsung (tatap mata), maka aku akan membuat surat terbuka untuk ayah. Hanya inilah solusi cerdas yang terfikirkan oleh ku (tentu kalian bisa membayangkan seberapa cerdasnya aku…).

Ayah…
Bagaimana kabar mu hari ini? Mudah-mudahan sehat dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Ayah, maaf kalau aku harus menulis surat ini untuk mu. Maaf kalau aku tidak bisa menyimpannya lagi dalam hati ku. dan maaf kalau aku belum bisa menyampaikannya secara langsung.

Ayah…
Aku selalu mengingat mu dengan sosok yang cuek, keras kepala, egois, pemarah dan lebih pendiam. Bukan karena aku selalu lekat dengan sifat buruk mu, tapi karena aku juga memiliki sifat buruk itu. Sifat yang ingin aku buang jauh-jauh dari hidup ku. tapi tidak pernah bisa!!! Tidak salah kalau orang-orang bilang aku ini duplikat ayah.

Ayah…
Sepanjang ingatan ku, kita tidak pernah berbicara layaknya ayah dan putri. Ingin rasanya Mengobrol berdua, dimana aku bercerita tentang teman-teman, sekolah, atau pacar ku. Setelah aku bercerita ayah akan menasehati ku. tapi semua itu hanya angan-angan ku saja, tidak pernah terjadi sekalipun.

Ayah…
Jujur, waktu kecil ayah adalah sosok yang paling aku benci dan takuti di dunia ini. Itu semua bukan tanpa alasan. Ayah sendiri yang menanamkan image itu di pikiran ku. Dimana kalau ayah marah, ayah selalu menghancurkan barang-barang yang ada dirumah (padahal ibu yang membelinya).  Ayah yang selalu mengabaikan kami ketika kami meminta uang untuk biaya sekolah. Jawaban ayah selalu sama “Minta saja uang sama ibu mu, ayah lagi gak punya uang” atau “ga usah saja sekolah, uang ku gak ada!!!”. Jawaban yang akan membuat anak kecil tidak akan berani meminta untuk ke dua kalinya.

Ayah selalu bilang tidak punya uang kalau ibu dan kami meminta. Tapi ayah selalu punya uang untuk mabuk-mabukan. Selalu punya uang untuk mentraktik minum teman-teman mu. Ketika ayah pulang dengan keadaan mabuk, biasanya ayah selalu marah-marah, membanting barang-barang yang ada di dekat mu. kami hanya bisa terdiam dan berusaha untuk tidur. Takut kalau kami akan menjadi sasaran kemarahan mu  selanjutnya.

Walaupun ayah tidak pernah membanting kami seperti menghancurkan perabotan rumah, tapi kata-kata kasar mu, yang seolah-olah tidak pernah menginginkan kami masih melekat di hati ini.

Ayah…
Taukah kamu, tingkah mu yang seperti itu membuat Ibu sedih. Ibu memang selalu memperlihatkan ketegarannya di depan mu dan di depan kami, tapi aku sering menyaksikan secara dia-diam, dia menangis seorang diri. Tidak kah ayah sadar, selama ini Ibu masih tetap sabar, berharap engkau berubah. 

Ayah menyakiti wanita yang selama ini menyayangi mu dengan tulus. Wanita yang rela membanting tulang untuk membantu suaminya menghidupi anak-anaknya. Wanita yang jarang mengeluh, tapi langsung berbuat.

Ayah..
Taukah engkau kalau aku selalu menyarankan Ibu untuk menceraikan mu. Iya…aku melakukannya!!!

Aku benar-benar tidak sanggup melihat Ibu terus-menerus  menderita karena mu. Lagi pula kenapa kalian masih mau mempertahan kan rumah tangga ini kalau, hampir setiap hari terjadi pertengkaran. Perceraikan memang di larang agama, tapi juga diperbolehkan ketika sudah tidak ada kecocokan.

Apakah ayah tau apa jawaban ibu? Ibu hanya menjawab “ Ibu tidak ingin kalian susah nantinya, ketika masih bersama saja begitu sulit untuk meminta tanda tangan ayah untuk raport sekolah kalian, apalagi nanti kalau kami sudah bercerai, bagaimana kalian akan mengurus surat-surat penting lainnya” . Jawaban singkat yang menyayat hati. Bahkan untuk saat-saat seperti itu Ibu masih memikirkan kepentingan kami (I Love U Mom).



Bersambung…..(maaf tidak sanggup melanjutkan)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar