Ayah adalah sosok kepala rumah tangga, yang seharusnya
memimpin, menjaga, dan mengarahkan keluarganya menjadi lebih baik. Kira-kira
seperti itulah sosok ayah yang ideal
menurut ku. Bagi orang yang mempunyai ayah seperti itu pasti sangat beruntung. Setidaknya
dia masih bisa membanggakan ayahnya di depan orang lain.
Sejak kecil sampai sekarang ketika teman-teman bercerita mengenai
ayahnya, aku biasanya hanya bisa terdiam. Bukan karena sariawan atau tiba-tiba
keselek ludah, tapi lebih karena aku tidak tau harus mulai dari mana. Eits…jangan
berburuk sangka dulu (GR euy….). Alhamdulillah Ayah masih sehat, masih kuat,
dan yang pastinya masih hidup sampai sekarang.
Setelah sekian lama memendam, saat ini, detik ini ingin
rasanya menyampaikan semua unek-unek ku pada ayah. Aku ingin menyampaikan apa
yang selama ini mengganjal di hati ku, ingin bisa mengobrol berdua layaknya
ayah dan putrinya. Menyampaikan apa yang benar dan apa yang salah sambil
berjanji untuk sama-sama memperbaiki diri. Tapi hal itu belum bisa aku lakukan, selain
jarak yang memisahkan kita, hati ini juga belum sanggup untuk menyampaikannya
secara langsung.
Jadi, berhubung karena aku tidak bisa menyampaikan secara langsung
(tatap mata), maka aku akan membuat surat terbuka untuk ayah. Hanya inilah
solusi cerdas yang terfikirkan oleh ku (tentu kalian bisa membayangkan seberapa
cerdasnya aku…).
Ayah…
Bagaimana kabar mu hari ini? Mudah-mudahan sehat dan selalu
dalam lindungan Allah SWT. Ayah, maaf kalau aku harus menulis surat ini untuk
mu. Maaf kalau aku tidak bisa menyimpannya lagi dalam hati ku. dan maaf kalau
aku belum bisa menyampaikannya secara langsung.
Ayah…
Aku selalu mengingat mu dengan sosok yang cuek, keras
kepala, egois, pemarah dan lebih pendiam. Bukan karena aku selalu lekat dengan
sifat buruk mu, tapi karena aku juga memiliki sifat buruk itu. Sifat yang ingin
aku buang jauh-jauh dari hidup ku. tapi tidak pernah bisa!!! Tidak salah kalau
orang-orang bilang aku ini duplikat ayah.
Ayah…
Sepanjang ingatan ku, kita tidak pernah berbicara layaknya
ayah dan putri. Ingin rasanya Mengobrol berdua, dimana aku bercerita tentang
teman-teman, sekolah, atau pacar ku. Setelah aku bercerita ayah akan menasehati ku. tapi semua itu hanya angan-angan ku saja, tidak
pernah terjadi sekalipun.
Ayah…
Jujur, waktu kecil ayah adalah sosok yang paling aku benci
dan takuti di dunia ini. Itu semua bukan tanpa alasan. Ayah sendiri yang menanamkan
image itu di pikiran ku. Dimana kalau ayah marah, ayah selalu menghancurkan
barang-barang yang ada dirumah (padahal ibu yang membelinya). Ayah yang selalu mengabaikan kami ketika kami
meminta uang untuk biaya sekolah. Jawaban ayah selalu sama “Minta saja uang sama
ibu mu, ayah lagi gak punya uang” atau “ga usah saja sekolah, uang ku gak
ada!!!”. Jawaban yang akan membuat anak kecil tidak akan berani meminta untuk
ke dua kalinya.
Ayah selalu bilang tidak punya uang kalau ibu dan kami meminta.
Tapi ayah selalu punya uang untuk mabuk-mabukan. Selalu punya uang untuk mentraktik
minum teman-teman mu. Ketika ayah pulang dengan keadaan mabuk, biasanya ayah
selalu marah-marah, membanting barang-barang yang ada di dekat mu. kami hanya
bisa terdiam dan berusaha untuk tidur. Takut kalau kami akan menjadi sasaran kemarahan
mu selanjutnya.
Walaupun ayah tidak pernah membanting kami seperti
menghancurkan perabotan rumah, tapi kata-kata kasar mu, yang seolah-olah tidak
pernah menginginkan kami masih melekat di hati ini.
Ayah…
Taukah kamu, tingkah mu yang seperti itu membuat Ibu sedih. Ibu
memang selalu memperlihatkan ketegarannya di depan mu dan di depan kami, tapi
aku sering menyaksikan secara dia-diam, dia menangis seorang diri. Tidak kah
ayah sadar, selama ini Ibu masih tetap sabar, berharap engkau berubah.
Ayah menyakiti
wanita yang selama ini menyayangi mu dengan tulus. Wanita yang rela membanting
tulang untuk membantu suaminya menghidupi anak-anaknya. Wanita yang jarang
mengeluh, tapi langsung berbuat.
Ayah..
Taukah engkau kalau aku selalu menyarankan Ibu untuk
menceraikan mu. Iya…aku melakukannya!!!
Aku benar-benar tidak sanggup melihat Ibu terus-menerus menderita karena mu. Lagi pula kenapa kalian
masih mau mempertahan kan rumah tangga ini kalau, hampir setiap hari terjadi
pertengkaran. Perceraikan memang di larang agama, tapi juga diperbolehkan
ketika sudah tidak ada kecocokan.
Apakah ayah tau apa jawaban ibu? Ibu hanya menjawab “ Ibu
tidak ingin kalian susah nantinya, ketika masih bersama saja begitu sulit untuk
meminta tanda tangan ayah untuk raport sekolah kalian, apalagi nanti kalau kami sudah bercerai, bagaimana kalian akan mengurus surat-surat penting lainnya” . Jawaban
singkat yang menyayat hati. Bahkan untuk saat-saat seperti itu Ibu masih
memikirkan kepentingan kami (I Love U Mom).
Bersambung…..(maaf tidak sanggup melanjutkan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar