Jumat, 23 Mei 2014

Surat Untuk Ayah (Bag. 2)


Ayah…
Beranjak remaja aku mulai berani untuk melawan mu. Apakah ayah masih ingat ketika ayah bilang “ Mati aja kalian semua”, seketika kata-kata ayah aku jawab “ Kamu aja yang mati”, ayah pun membalas “kamu mulai berani gak sopan ya!!!”. “siapa yang ngajarin” balas ku lagi. Ayah pun terdiam mendengar jawaban ku yang spontan itu. Terlihat ekspresi terkejut dari wajah mu. Mungkin ayah berfikir “Ternyata putri kecil ku sudah besar sekarang, bahkan sudah berani melawan ku”.

Apakah ayah kaget dengan reaksi ku?

Ketika saudara ku yang laki-laki tidak pernah berani melawan mu, aku yang perempuan bahkan berani untuk membalas umpatan mu.

Semua saudara laki-laki ku terlalu baik yah..., mereka bukannya tidak berani melawan mu, tapi mereka masih menghargai mu sebagai ayah. Mereka menuruni sikap ibu yang cenderung mengalah.

Lalu mengapa aku berbeda?

Harus ada yang berbeda yah…!!! Dengan begitu ayah akan tau bagaimana rasanya dibenci oleh putri mu sendiri. Akulah lawan mu yang sebenarnya yah..., darah daging mu sendiri…

Ayah…
“Aku tidak mau mencintai seperti ayah”. Aku tidak akan pernah mau menyakiti orang-orang yang aku sayangi dan menyayangi ku. Aku akan menjaga mereka yah. Aku tidak ingin seperti mu. 

Walaupun sampai saat ini aku tidak mempercayai pernikahan, tapi aku masih ingin di cintai dan mencintai.

Ayah…
Aku mulai takut dengan masa depan ku. Aku takut akan menyakiti mereka yang menyayangi ku. Dan aku juga takut di sakiti orang yang ku sayangi.

Aku mulai menutup diri yah…, aku tenggelam kedalam lumpur ketakutan yang aku ciptakan sendiri.

Ayah…
Semakin bertambah umur semakin aku sadari, membenci bukanlah solusi yang tepat untuk hubungan kita. hati kecil ku berkata kalau aku sebenarnya mencintai mu. Tidak akan pernah ada rasa benci yang mendalam kalau aku tidak mencintai mu.

Ayah…
"Aku ingin berdamai dengan diri ku sendiri". Belajar untuk menyayangi mu, belajar mengalah, dan belajar untuk menaklukan mu.

Aku ingin mulai dari awal lagi yah. Memulai hubungan baik dengan mu, dan melupakan semua hal buruk dari mu. Karena tidak pernah ada kata terlambat untuk memulai kebaikan.

Ayah…
Taukah kamu, tampang mu yang garang secara tidak sengaja sering menyelamatkan ku. Ketika teman laki-laki ku ingin berkunjung ke rumah, biasanya aku menguji mereka dengan mengatakan kalau ayah ada di rumah. Kalau mereka mendengar ayah ada di rumah biasanya mereka tidak akan berani untuk berkunjung. Aku tidak pernah menyukai mereka yah…, mereka seperti pengecut yang hanya bisa menjual tampan dan harta orang tuanya. Otak mereka bahkan kebanyakan kosong.

Ayah…

Aku mulai membenci laki-laki. Aku tidak pernah merasa nyaman dengan mereka. Semua laki-laki yang dekat dengan ku tidak pernah benar-benar mencintai ku.  Hubungan asmara ku tidak pernah bertahan lama. Hanya sampai lima bulan. Tapi aku tidak pernah menyesal, karena aku juga tidak pernah mencintai mereka. Itu semua hanya sekedar pelampiasan saja.


Bersambung...









Tidak ada komentar:

Posting Komentar